Mengajarkan Keterampilan Berbicara di Kelas Pelajar Muda (artikel 3)
Berita menarik yang didapatkan dari survei PISA (Program for International Students Assessment) bahwa dari 510.000 siswa berusia 15 hingga 16 tahun yang mewakili 28 juta anak dari 65 megara anggota PISA, mengejutkan bahwa Indonesia mendapatkan anggota tertinggi di bidang siswa merasa bahagia di sekolah dan siswa berteman dengan mudah di sekolah. Namun, prestasi siswa Indonesia yang dilaporkan oleh PISA tidak secara pasti diikuti oleh kompetensi mereka dalam matematika, bahasa, dan sains. Menurut PISA. Dari 65 negara tersebut, Indonesia merupakan skor yang terendah sebelum Peru.
Berdasarkan PISA 2012 dapat disimpulkan bahwa sistem
pendidikan Indonesia saat ini masih juah dari tujuan yang ditargetkan. Selain
itu, survei menunjukkan. Pertama: Kurikulum berbasis sekolah (KTSP) dimana
CTL/PAKEM menggunakan pendekatan pengajaran berhasil dilakukan, dibuktikan
dengan fakta bahwa siswa Indonesia merasa lebih bahagia di sekolah daripada di
banyak negara lain. Kedua: posisi Indonesia vis-a- vis negara – negara lain
anggota PISA yaitu peringkat terendah sebelum Peru menunjukkan bahwa pada
matematika, bahasa dan sains siswa tidak belajar dengan baik. Ketiga : siswa
yang mendapatkan nilai tinggi dalam matematika, bahasa, dan sains benar – benar
belajar dengan giat, berusaha untuk belajar dan mengabaikan kebhagiaan dan suasana
santai di sekolah.
Kurikulum 2013 menyiratkan bahwa bahasa Inggris dianggap sebagai konten lokal, bukan berarti bahasa Inggris sebagai second opinion atau bahkan dihapus. Bahasa Inggris untuk sekolah dasar adalah opsional, beberapa sekolah, jika memungkinkan, dapat menjadikannya konten lokal atau mereka dapat memilih yang lain seperti TIK, budaya atau keterampilan hidup. Ketika bahasa Inggris dipilih sebagai konten lokal dari kurikulum sekolah, guru, media pembelajaran dan fasilitas pendukung lainnya harus disediakan.Sebelum anak-anak atau pelajar muda belajar berbicara bahasa asing sebagai yang pertama dari output mereka, anak-anak kecil mendengarkan kata-kata, frasa atau kalimat sebagai input pertama mereka. Ini adalah rumah pertama dari kata-kata asing yang mereka masuki dan mainkan setelah bahasa pertama mereka.Ada beberapa alasan mengapa TEYL (Teaching English for Young Learner) harus dilakukan di sekolah. Adapun alasannya diantaranya yaitu anak-anak yang memiliki awal mengembangkan dan mempertahankan beberapa keuntungan di beberapa bidang bahasa misalnya pemahaman mendengarkan sebagian besar manfaat dari awal ini, pengucapan juga manfaat dalam jangka Panjang pelajar muda merasa lebih mudah untuk belajar bahasa daripada siswa yang lebih tua.
Mengajar mendengarkan dan membaca kepada pelajar muda
adalah tugas dari seorang guru atau tenaga pendidik. Guru juga harus memahami kebutuhan siswa yang perlu
dipenuhi ketika kegiatan proses pembelajaran guna untuk mengembangkan mikro dan
strategi mendengarkan. Maka guru harus menggunakan pendekatan, memvariasikan
gaya kognitif, mencampur dan mencocokkan berbagai metode dan alat, misalnya
dengan menggunakan kaset atau CD, lagu, nyanyian, puisi, dan sajak yang
divariasi dengan permainan. Atau juga bisa dilakukan dengan menggunakan teknik kosakata
berbicara dan menulis serta twister lidah.
Komentar
Posting Komentar