Mengajarkan Keterampilan Berbicara Di Kelas Pembelajar Dasar (Siswa SD/MI)
Sistem pendidikan Indonesia saat
ini masih jauh dari tujuan yang ditargetkan. Kegiatan mengajar mendengarkan
harus fokus pada pengembangan keterampilan mikro, seperti mempertahankan
potongan bahasan dalam memori jangka pendek, membedakan antara suara bahasa
Inggris, mengenali pola stress bahasa Inggris, dan lain sebagainya.
Ada banyak cara anak bermain
dengan kata-kata dan bahasa, dimulai dengan sajak yang mereka dengar saat bayi
dan berlanjut dengan jenis permainan lain yang melibatkan bentuk dan makna
bahasa. Bahasa yang berkaitan dengan anak-anak adalah bermain kata-kata dan
ucapan.
Pengulangan frasa mempersiapkan
anak-anak untuk komunikasi yang bermakna dalam beberapa cara yaitu dengan
membantu mereka terbiasa mengatakan bahasa Inggris, dengan memungkinkan mereka
untuk berlatih pola intonasi, dan dengan memungkinkan mereka untuk mendapatkan
kepercayaan diri, terutama jika guru memberikan banyak pujian. Oleh karena itu,
untuk guru pembelajar dasar disarankan untuk membuka kesempatan dan lebih
banyak waktu bagi peserta didik untuk mendengarkan kata-kata, ucapan, rangkaian
frasa sebagai proses pengembangan keterampilan berbicara peserta didik.
Mengajar pembelajar dasar
sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan, mereka seperti spons. Mereka
menyerap semua yang dikatakan dan bagaimana guru mengatakannya. Kemapuan guru
dalam mengucapkan setiap kata, frasa, dan kalimat sangat penting, karena
pembelajar dasar akan mengulangi apa yang mereka dengar.
Ada banyak kegiatan yang
bervariasi misalnya dialog, lagu, puisi, sajak, paduan suara, dan nyanyian yang
dapat diapdopsi untuk menumbuhkan kemampuan berbicara siswa serta untuk
membangun pengucapan mereka. Harus ada lebih banyak perhatian, ketika guru
menerapkan metode tersebut dalam praktik mengajar pembelajar dasar yaitu
interaksi peserta didik sebagai cara belajar. Pada tahap awal pembelajaran
bahasa, kosa kata harus disajikan secara lisan dengan dukungan luas dari
gambar, boneka, realia, video, dan/atau pantomim, gerak tubuh, ekspresi wajah,
atau tindakan.
Setiap metode memiliki kelebihan dan kelemahan sendiri. Guru dibebaskan untuk memilih metode apa yang cocok untuk diterapkan di kelas yang diajarkannya. Kegiatan berbicara dapat menyebabkan tingkat kegaduhan yang tinggi, sehingga guru harus memiliki cara yang unik untuk mengelola kelas.
Komentar
Posting Komentar