MENGAJAR MENDENGARKAN KRITIS KEPADA PELAJAR MUDA DALAM KONTEKS EFL INDONESIA
Pengajaran bahasa Inggris di
Indonesia mencakup empat keterampilan, yaitu mendengarkan (listening),
berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing), serta dua komponen
bahasa—kosa kata (vocabulary) dan tata bahasa (grammar). Mendengarkan adalah salah satu dari empat keterampilan
berbahasa yang mempunyai peran penting dalam pengajaran bahasa Inggris di
negara kita. Menurut Howat dan Dakin (1974), mendengarkan adalah kemampuan
untuk mengidentifikasi dan memahami apa yang dikatakan orang lain. Hal ini melibatkan
pemahaman aksen atau pengucapan pembicara, tata bahasa, kosa kata, dan
pemahaman maknanya. Pada dasarnya mendengarkan mempunyai arti yang berbeda
dengan mendengar. Mendengarkan adalah proses aktif di mana pendengar mencoba
mengidentifikasi suara, menerjemahkannya, dan memahami makna kata kata melalui
konteks. Dalam strategi pengajaran mendengarkan, perlu bagi guru untuk
mempertimbangkan beberapa pertanyaan spesifik tentang mendengarkan agar proses pengajaran
mendengarkan berjalan dengan baik. Aktivitas
yang dapat diajarkan kepada pembelajar dasar adalah cerita, lagu, pantun,
permainan jari. Agar interaksi terjadi di dalam kelas, guru harus berperan
sebagai pengontrol, pengarah, manajer, fasilitator, dan sumber daya.
Strategi pembelajaran adalah
langkah-langkah yang diambil siswa untuk meningkatkan pembelajarannya sendiri (Oxford,
1990), sedangkan Wenden (1987) mendefinisikan bahwa strategi pembelajaran
adalah langkah-langkah mental atau operasi spesifik yang diterapkan siswa untuk
belajar. Strategi sangat penting dalam pembelajaran bahasa karena merupakan
alat untuk keterlibatan aktif dan mandiri, yang penting untuk mengembangkan
kompetensi komunikatif. Strategi pembelajaran bahasa yang tepat menghasilkan
peningkatan kemahiran dan kepercayaan diri yang lebih besar. Dengan cara
mengajar yang menarik, siswa dapat memperoleh rasa percaya diri ketika belajar
EFL.
Komentar
Posting Komentar