Kondisi pengajaran bahasa Inggris untuk Pembelajar Dasar dan Kesetaraan Gender
Kondisi pengajaran bahasa Inggris kepada Pembelajar Dasar: perspektif guru Indonesia
Menurut Willans (2019), Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua atau ESL berarti bahasa yang didengar dan dilihat seseorang, digunakan di sekitar mereka dalam kehidupan sehari-hari tetapi tidak banyak digunakan di rumah. Dalam praktik pengajaran dan pembelajaran bahasa inggris disekolah ada beberapa kondisi yang dapat mencapai kemungkinan keberhasilan pembelajaran bahasa asing tersebut, diantaranya terdapat faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pembelajaran bahasa kedua, Diantara kondisi tersebut, ada lima aspek yang diambil untuk dikaji lebih lanjut dalam konteks Indonesia yaitu kondisi pemaparan, kondisi motivasi, kondisi kesempatan berlatih, kondisi komunikasi, dan kondisi tujuan pembelajaran. Studi kasus ini bertujuan untuk menyelidiki keyakinan guru tentang peran pemaparan, motivasi, dan praktik di kelas bahasa Inggris di sekolah dasar dan bagaimana mereka menerjemahkan keyakinan mereka ke dalam tindakan pembelajaran rutin.
Meskipun penelitian ini hanya melibatkan tiga
guru bahasa Inggris Indonesia di sebuah sekolah dasar swasta terpilih dan
hasilnya tidak dapat digeneralisasikan, penelitian ini bermanfaat bagi guru
lain dalam arti bahwa setiap guru ESL memiliki pendekatan pengajaran; setiap
individu guru ESL mewujudkan keyakinannya di kelas dan setiap individu terlibat
dalam perubahan seiring kurikulum bahasa mengusulkan inovasi untuk diterapkan Oleh karena itu, jelas bahwa refleksi yang efisien
dari hubungan antara keyakinan dan praktik dapat membantu guru menumbuhkan
pemahaman tentang apa yang ingin mereka lakukan di kelas dan perubahan yang
ingin mereka terapkan pada pendekatan mereka dalam mengajar dan belajar.
Pengajaran Bahasa Inggris Kepada Pembelajar Dasar: Lebih Banyak Pendidikan Guru dan Lebih Banyak Sastra Anak.
Pasti kalian
pernah
mengalami anak usia enam tahun yang bertanya-tanya apakah boneka yang saya
gunakan dalam bercerita itu hidup. Sebaliknya, anak usia dua belas tahun sudah
secara mandiri memperoleh lebih banyak bahasa Inggris di luar sekolah
dibandingkan di sekolah dalam beberapa konteks (walaupun tanpa peluang
pendidikan terkait bahasa dalam pelajaran bahasa Inggris), sering kali melalui
menonton film dengan subtitle dan
menghabiskan waktu berjam-jam bermain video game berbahasa Inggris. Karena banyaknya bahasa Inggris di luar sekolah
dalam konteks seperti itu, perbedaan antara Bahasa Inggris sebagai bahasa asing
(EFL) dan Bahasa Inggris sebagai bahasa tambahan atau bahasa kedua (L2) sudah
menjadi kabur.
Potensi manfaat TEYL sudah diketahui secara
luas di kalangan masyarakat yang berpengetahuan luas, namun yang juga penting
adalah bahwa pengajaran harus sesuai dengan kebutuhan sosial, psikologis,
emosional, dan kognitif anak- anak. Hal ini berkaitan dengan konsep Dewey
tentang collateral learning dan pembentukan sikap abadi yang sering ditemukan
dalam kurikulum nasional TEYL. juga menunjukkan hal ini, kita perlu mengingat
gambaran yang lebih kaya dan menerima pelatihan bahasa sebagai bagian integral
dari keseluruhan perkembangan dan pendidikan anak. Penelitian pemerolehan bahasa kedua (SLA)
menunjukkan bahwa faktor usia yang dilebih- lebihkan ini adalah suatu
kesalahan, sebaliknya kondisi dan konteks pembelajaranlah yang menjadi faktor
penentu
Secara psikolinguistik, penggunaan bahasa yang menarik dapat membangkitkan rasa ingin tahu, dengan kalimat yang mudah dipahami dan tanpa struktur kalimat yang rumit, akan membantu anak-anak dalam memahami pola-pola. Sementara itu, urutan rumus ungkapan yang hampir tetap atau gugus kata multi-item dapat meningkatkan kesadaran terhadap pola-pola yang mendasarinya, banyak guru yang mengajar anak-anak muda fokus pada memperkenalkan kata-kata tunggal, yang dikenal sebagai 'masalah kata benda'. Perkembangan bahasa dapat dipercepat dengan mendorong imitasi yang adaptif-produktif terhadap pola-pola bahasa, karena, sesuai dengan Larsen-Freeman 'Pola-pola ini kemudian menjadi bagian dari sumber daya bahasa para pembelajar, tersedia untuk digunakan dan dimodifikasi lebih lanjut'.
Apakah Buku Pelajaran Bahasa Inggris untuk Pembelajar Dasar di Indonesia Mendorong Kesetaraan Gender?
Isu gender merupakan isu sensitif dalam masyarakat Indonesia karena masih banyak kontroversi dan kontradiksi seputar batasan dan implementasi kesetaraan gender. Namun kesetaraan gender telah menjadi agenda penting dan telah dipromosikan oleh pemerintah Indonesia selama beberapa dekade. Melalui Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1984, Indonesia meratifikasi hasil Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan tahun 1980. Pendidikan adalah bidang penting dalam mempromosikan kesetaraan gender kepada generasi muda negara ini. Keputusan Presiden (Inpres) No 9/2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Perencanaan dan Pemrograman Pembangunan Nasional dan Permendiknas No 84/2008.
Buku teks bahasa Inggris sebagai sumber utama di kelas harus mempromosikan kesetaraan gender terutama untuk pelajar muda karena usia muda adalah usia kritis untuk membentuk perspektif, ide, kepercayaan, ideologi anak-anak, dan sebagainya. Tampaknya buku teks yang diperiksa mewakili gender secara merata dalam hal kuantitas dan peran sosial dari posisi pekerjaan. Namun, penggambaran laki-laki dan perempuan dalam peran dan kegiatan rumah tangga masih stereotip. Penggambaran ini entah bagaimana menunjukkan realitas masyarakat Indonesia. Hasil ini mungkin memiliki implikasi bahwa guru bahasa Inggris untuk pelajar muda diharapkan untuk berimprovisasi dengan memberikan lebih banyak pemahaman tentang kesetaraan gender saat menggunakan buku teks.
Komentar
Posting Komentar