Bahasa Inggris pada Pembelajar Dasar

Kondisi Pengajaran Bahasa Inggris Kepada Pembelajar Dasar: Perspektif Guru Indonesia

Berdasarkan penjelasan di dalam artikel, penelitian tersebut berfokus pada meneliti keyakinan guru tentang peran mengajar, memotivasi, dan praktik di kelas bahasa Inggris. Ketika belajar bahasa Inggris, maka harus berkunci bahwa bahasa Inggris adalah tentang latihan dan skill (kemampuan). Skill di dalam bahasa Inggris ada 4 yang dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu:

  1. Receptive skill (menerima), yang meliputi listening dan reading

  2. Productive skill (usaha, proses), yang meliputi speaking dan writing

Dari hasil penelitian, guru perlu untuk melatih peserta didik, baik itu melatih kemampuan speaking, reading, listening, dan writing. Karena bahasa Inggris sangat penting untuk peningkatan kelas dan pembelajaran bahasa bergantung pada pembelajaran bahasa Inggris. Jam pembelajaran bahasa Inggris hanya 70 menit dalam sepekan, sehingga dianggap tidak cukup. Oleh karena itu perlu memfokuskan diri atau terus belajar tentang manajemen pembagian waktu dan belajar bagaimana cara mengajar yang baik. 

Ada peraturan dari Kemendikbud bahwa guru lulusan PGSD tidak boleh mengajar bahasa Inggris, karena yang boleh mengajar bahasa Inggris adalah lulusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI). Akan tetapi menurut Kemenag lulusan PGSD/PGMI boleh-boleh saja jika mengajar bahasa Inggris. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka guru diberi bekal agar belajar atau kursus bahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya. 

Di dalam mengajar guru harus dapat memotivasi peserta didik, karena pada dasarnya tidak semua anak tertarik dan suka dengan bahasa Inggris. Guru harus melihat bagaimana latar belakang peserta didik. Bagi mereka yang bisa atau bahkan suka dengan bahasa Inggris maka dapat dengan mudah untuk mengajarkannya, namun bagi yang tidak suka atau bahkan tidak bisa maka harus diberi motivasi terlebih dahulu. Misalnya memberikan contoh-contoh kesuksesan orang dengan pengetahuan bahasa Inggrisnya, memberikan reward ketika peserta didik yang bisa menjawab soal atau mengerjakan sesuatu, dan lain sebagainya. 

Selain memotivasi, latihan juga penting untuk belajar bahasa Inggris. Meskipun sebagian besar peserta didik di tingkat dasar membutuhkan bimbingan dari guru, namun mereka tetap harus diberikan ruang untuk berlatih dan dihargai atas segala upaya yang mereka lakukan. Bahasa Inggris sangat penting, karena bahasa Inggris mempunyai tiga peran yaitu: melatih, menerangkan dan memperluas, serta memotivasi. 

Pengajaran Bahasa Inggris kepada Pembelajar Dasar: Lebih Banyak Pendidikan Guru dan Lebih Banyak Sastra Anak!

Di dalam artikel ini membahas tentang tantangan pengajaran bahasa Inggris kepada pembelajar dasar (Teaching English to Young Learners (TEYL)) dan implikasinya terhadap pendidikan guru. Pendidikan guru mengacu pada persiapan guru pra-jabatan berbasis universitas, dan pelatihan guru mengacu pada misalnya pendampingan siswa dalam praktikum di sekolah. 

Artikel ini berfokus pada pengajaran bahasa Inggris pada anak pada rentang usia 6-12 tahun, yang mana pada usia tersebut perkembangan anak mengalami kemajuan pesat. Namun hal itu tak lepas dari tantangan dalam mengajar pembelajar dasar rentang usia tersebut, karena mereka sangat bergantung pada guru karena mereka belum menguasai. Untuk itu, direkomendasikan untuk fokus pada belajar literasi.  Penelitian menunjukkan bahwa faktor usia yang dilebih-lebihkan adalah suatu kesalahan, sebaliknya kondisi dan konteks pembelajaranlah yang menjadi faktor penentu: ketersediaan guru dengan tingkat kemahiran tinggi dalam bahasa target dan pelatihan professional, banyak peluang untuk komunikasi otentik dalam bahasa, waktu pengajaran yang cukup, dan lain sebagainya. 

Kendala yang dihadapi dalam persiapan TEYL diantaranya adalah guru yang memiliki persiapan yang baik juga sering dirugikan karena kurangnya dukungan institusional, atau budaya sekolah yang tidak mendukung, selain itu bahasa Inggris selalu dijadwalkan di akhir sekolah bahkan berulang kali dibatalkan. 

Para peneliti menekankan bahwa keahlian guru untuk TEYL harus mencakup kefasihan berbahasa yang meyakinkan serta metodologi yang sesuai dengan usia. Hasil survey di seluruh dunia juga menunjukkan pentingnya status profesi guru, dan negara-negara dengan sekolah berkinerja baik seperti Finlandia juga memberikan status yang tinggi kepada guru. Hasilnya juga menunjukkan bahwa kualitas suatu sistem pendidikan tidak bisa melebihi kualitas gurunya. 

Cara membantu anak untuk memahami adalah dengan:

  1. Evaluasi bahasa, hal ini membantu guru mencocokkan teks dengan kebutuhan ahli bahasa dan emosional anak. 

  2. Mendengar dan menganalisis, guru yang dapat mendengar dan menganalisis fungsi sebuah teks berada pada posisi yang tepat. 

  3. Analisis kritis teks, dan cara kerjanya membnatu guru meningkatkan kesadaran anak tentang bagaimana teks bekerja dalam dunia nyata. 

Apakah Buku Pelajaran Bahasa Inggris untuk Pembelajar Dasar di Indonesia Mendorong Kesetaraan Gender?

Pendidikan adalah bidang penting dalam mempromosikan kesetaraan gender kepada generasi muda negara ini. Kurikulum yang mengedepankan kesetaraan gender dapat direpresentasikan dalam buku teks sebagai sumber bahan ajar yang umum digunakan di Indonesia. Buku teks bahasa Inggris sebagai sumber utama di kelas harus mempromosikan kesetaraan gender terutama untuk pembelajar dasar karena usia muda adalah usia kritis untuk membentuk perspektif, ide, kepercayaan, dan sebagainya. Laki-laki diperlihatkan dominan dalam teknik berbahasa dan menguasai lebih banyak tempat umum, sementara perempuan diperlihatkan pasif dan menguasai lebih banyak wilayah privat. 

Penelitian ini diambil dari isi buku Bahasa Inggris 3 “Grow with English” untuk kelas III SD terbitan Erlangga Publisher. Umumnya gambar laki-laki dan perempuan muncul secara merata di setiap halaman buku. Atribut pada gambar dapat digunakan untuk menentukan jenis karakter. Gaya rambut dan pakaian yang sangat stereotipe berdasarkan konteks budaya, terkadang dapat menjadi dasar kategorisasi. 

Peran domestik laki-laki dan perempuan digambarkan melalui beberapa kegiatan. Misalnya memasak dan berbelanja sering distereotipekan sebagai tanggung jawab perempuan dalam rumah tangga. Di dalam buku ini, memasak ditampilkan sebagai aktivitas laki-laki dan perempuan, namun frekuensinya berbeda. Karakteristik dalam buku teks digambarkan dalam peran professional atua pekerjaan sebagai perempuan dan laki-laki. Di dalam buku ini tidak ada perbedaan mengenai pekerjaan atau profesi. Namun, pada beberapa topik, perempuan lebih banyak digambarkan bekerja di sektor informal dibandingkan laki-laki. Aspek selanjutnya yaitu aktivitas. Tidak ada perbedaan yang signifikan pada pembahasan ini, namun pada beberapa gambar laki-laki digambarkan lebih aktif beraktivitas di luar ruangan dibandingkan dengna perempuan.

Representasi gender yang ditemukan dalam buku teks secara umum sama. Maka sebagai guru harus pandai-pandai memilih buku yang digunakan dalam mengajar dan di dalam buku pembelajaran SD harus ada kesetaraan gender. Guru juga harus mengenalkan kesetaraan gender kepada peserta didik. Karena semua perbedaan itu hanya karena sudut pandang dari masyarakat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips and Tricks! 4 Media Pembelajaran Menarik Untuk Mengajar Bahasa Inggris Pembelajar Dasar

Bahasa Inggris pada Pembelajar Dasar

Bahasa Inggris pada Pembelajar Dasar