Bahasa Inggris pada Pembelajar Dasar
Kondisi Pengajaran Bahasa Inggris Kepada Pelajar Dasar: Perspektif Guru Indonesia
Pada bab ini, penelitian fokus pada penyelidikan guru Bahasa inggris di jenjang sekolah dasar tentang peran paparan Bahasa inggris, motivasi dalam belajar Bahasa inggris, serta peran latihan menggunakan Bahasa inggris. Guru yang baik adalah mereka yang sadar bahwa dirinya yang memainkan peran penting dalam pembelajaran dan mempunyai tugas penting untuk meyakinkan peserta didik bahwa mereka harus selalu belajar berbahasa inggris. Peran paparan Bahasa inggris dari guru kepada siswa saat ini sangatlah penting. Para guru perlu fokus mengembangkan materi Bahasa inggrisnya agar para siswa mudah dan dapat berbahasa inggris sejak ditingkat Pendidikan dasar. Kemudian dapat mereka mengimplementasikannya di kehidupan nyata.
Guru berperan sebagai teladan, pembimbing, fasilitator, pembisik, dan motivasi baik di dalam kelas maupun eksternal kelas, hal ini guna untuk memicu mereka belajar bahasa Inggris dengan mudah. Setiap guru pasti memiliki motivasi tersendiri untuk menunjukkan kepada siswa bahwa mereka akan mendapatkan manfaat banyak dalam mempelajari Bahasa inggris. Guru harus sering melaksanakan latihan menggunakan Bahasa inggris kemudian memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari dalam pembelajaran bahasa Inggris. Dengan melalui lagu, permainan, dan kegiatan pembelajaran kooperatif lainnya dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis dalam bahasa Inggris.
Pengajaran Bahasa Inggris Kepada Pembelajaran Dasar: Lebih Banyak Pendidikan Guru dan Lebih Banyak Sastra Anak-Anak!
Dalam penelitian ini membahas sastra anak anak sangat relevan namun masih banyak hambatan dalam memasukkan sastra anak dalam Pendidikan dasar. Tantangan dalam mengajar pembelajaran dasar ini yaitu para pelajar dasar masi tergantungan pada guru mereka tentang materi yang dipelajarinya. Penelitian TEYL mengakui bahwa peran guru sangatlah penting dan penuh tantangan. Guru YLS yang berpraktik membutuhkan dukungan CPD untuk memperluas pengetahuan konten pedagogis dan repertoar kerajinan mereka, namun rendahnya status TEYL menghalangi peluang yang diperlukan. Guru memiliki peran penting sebagai model kesadaran antara budaya dan bahasa, mereka menjadi model sebagai pembaca dan pembelajar, dan menjadi model bahasa yang dipelajari anak-anak.
Alasan penting untuk memasukkan fokus pada literatur anak-anak dalam pendidikan guru Bahasa antara lain: Mengulang-ulang bagian cerita yang penting, seperti 'frasa beruang teddy ', Menggunakan pengulangan suara dalam cerita, Menggunakan bahasa berkualitas tinggi yang memiliki kohesi gaya, Memberikan kesempatan untuk menceritakan ulang cerita, Memberikan dukungan pemahaman melalui cerita yang memotivasi dan gambar yang merangsang imajinasi dan sebagainya. Dengan cara ini, literatur anak-anak dapat memberikan masukan berkualitas tinggi dan fondasi yang kuat untuk pembelajaran bahasa anak-anak yang sedang berkembang. Anak-anak memerlukan bantuan untuk memperhatikan pola Bahasa dalam cerita yang dibawakan guru ke dalam kelas, guru memerlukan bantuan dalam menemukan dan memilih materi yang paling kondusif untuk mendukung perkembangan bahasa reseptif dan produktif anak-anak, serta pemahaman antar budaya mereka.
Tujuan utama pengembangan guru adalah untuk mempersiapkan pemahaman tentang prinsip utama tentang cara memecahkan kode, menyandikan, dan membuat makna dalam berbagai mode. Mengetahui cara kerja buku bergambar dan cara membuat makna multimodal akan menghasilkan pendidik, mediator, dan profesional lain yang percaya diri yang dapat secara kritis memilih teks yang mengembangkan 'literasi' yang diperlukan untuk kehidupan abad kedua puluh satu. Oleh karena itu, pendidikan guru untuk TEYL harus memanfaatkan pendekatan interdisipliner yang inklusif.
Apakah Buku Pelajaran Bahasa Inggris untuk Pelajar Muda di Indonesia Mendorong Kesetaraan Gender?
Pendidikan adalah bidang penting dalam mempromosikan kesetaraan gender kepada generasi muda negara ini. Keterkaitan gender dan pendidikan menjadi pintu masuk untuk mencapai kesetaraan gender dan menghilangkan prasangka terhadap laki- laki dan perempuan, sehingga pendidikan dapat menutup kesenjangan gender. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, buku teks merupakan pengajaran di kelas yang sangat penting sumber daya yang memungkinkan peserta didik untuk berpartisipasi dalam aksi sosial serta menggunakan target Bahasa sehingga buku teks mempunyai peran kunci dalam membentuk pemikiran, praktik sosial peserta didik. Buku teks bahasa Inggris sebagai sumber utama di kelas harus mempromosikan kesetaraan gender terutama untuk pelajar muda karena usia muda adalah usia kritis untuk membentuk perspektif, ide, kepercayaan, ideologi anak-anak, dan sebagainya. Pada penelitian ini, peneliti mengambil buku yang belum diteliti yaitu “Grow with English” untuk kelas 3 SD.
Tujuan CDA adalah untuk mengkaji kesenjangan sosial sebagaimana yang disampaikan, ditunjukkan, direpresentasikan, dibenarkan, dan seterusnya dengan penggunaan bahasa (atau dalam wacana). Peneliti mengumpulkan data representasi gender dari buku teks dan mendeskripsikannya. Temuan tersebut diklasifikasikan ke dalam empat kategori: Representasi gambar dan nama tokoh, Peran domestik, dan Peran sosial, serta Aktivitas laki-laki dan perempuan berdasarkan data yang ditemukan peneliti. Representasi gender dalam buku teks bahasa Inggris sekolah dasar itu berbentuk teks dan gambar visual, dibenamkan secara jelas. Representasi gender yang ditemukan dalam buku teks secara umum sama, meskipun tidak mencakup semua kategori. Itu kesetaraan digambarkan dengan menyebut nama laki-laki dan perempuan yang setara pada tokoh utama, serta pemberian ilustrasi bergambar di buku teks, bahkan kemunculan gambar perempuan ilustrasi lebih sering terjadi dibandingkan laki-laki. Hasil ini mungkin memiliki implikasi bahwa guru bahasa Inggris untuk pembelajaran dasar diharapkan untuk berimprovisasi dengan memberikan lebih banyak pemahaman tentang kesetaraan gender saat menggunakan buku teks. Untuk penelitian lebih lanjut, direkomendasikan bahwa merancang bahan ajar yang mempromosikan kesetaraan gender dapat dilakukan. Desainer dan penerbit buku teks juga diharapkan lebih memperhatikan isu isu kesetaraan gender ketika merancang dan menerbitkan buku teks.
Komentar
Posting Komentar