Bahasa Inggris pada Pembelajar Dasar
ARTIKEL: KONDISI PENGAJARAN BAHASA INGGRIS KEPADA PELAJAR Muda:PRESPEKTIF GURU INDONESIA
Bahasa Inggris sebagai bahasa asing pertama yang sejak lama sudah diajarkan di Indonesia mulai tingkat dasar.Tetapi terdapat perbedaan kurikulum antara sekolah menengah dengan sekolah dasar yaitu bahwa mata pelajaran bahasa Inggris itu dihapuskan untuk tingkat dasar. Mata pelajaran bahasa Inggris yang awalnya sebagai mata pelajaran wajib di kelas 4,5,dan 6, kini bahasa Inggris tetap bisa diajarkan akan tetapi sebagai muatan lokal. Meskipun begitu, masih banyak sekolah dasar khususnya yang swasta masih mengajarkan pelajaran bahasa Inggris untuk diajarakan di tingkat Sekolah Dasar. Hal ini di pertimbangkan bahwa bahasa asing harus diperkenalkan dan diajarkan sejak dini, dimulai dari Sekolah Dasar
Menyikapi hal itu, maka terdapat juga peran guru bahasa Inggris di Sekolah Dasar yang memasukkan mata pelajaran bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib diantaranya yaitu peran paparan bahasa inggris(untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan berbahasa Inggris maka harus mengikuti kursus, penggunaan lagu untuk mempermudah siswa dalam menghafal kosakata,memperkenalkan permainan sesuai dengan topik dan materi yang telah dirancang, dan mengadakan kuis baik secara tertulis ataupun lisan), peran motivasi dalam belajar bahasa Inggris(para guru sepakat bahwa siswa perlu memiliki motivasi baik secara pribadi maupun eksternal untuk memicu dalam kegiatan pembelajaran bahasa Inggris, memiliki motivasi sangat diperlukan untuk membangun semangat pribadi yang tinggi dalam belajar,dan hal ini bisa terjadi jika terdapat keterbukaan antara guru dalam menerima pertanyaan, dan keluhan para siswa), dan peran latihan menggunakan bahasa Inggris( Latihan sangat penting terutama dalam pembelajaran bahasa Inggris. Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari baik itu melalui pembelajaraan kooperatif, ataupun permainan untuk melatih receptive skill(listening dan reading) dan productive skill(speaking dan writing)
PENGAJARAN BAHASA INGGRIS KEPADA PELAJAR MUDA (ANAK): LEBIH BANYAK PENDIDIKAN GURU DAN LEBIH BANYAK SASTRA ANAK
Potensi manfaat TEYL telah diketahui secara luas dikalangan masyarakat yang berpengetahuan luas, namun yang paling penting adalah bahwa pengajaran harus sesuai dengan kebutuhan sosial, psikologis, emosional, dan kognitif anak – anak. Hal ini berkaitan dengan konsep Dewey tentang collateral learning dan pembentukan sikap abadi yang sering ditemukan dalam kurikulum nasionaL TEYL. Mengacu pada konteks EYL di Tiongkok, Jepang, Korea Selatan,Jin, dan Cortazzai menulis bahwa anak – anak belajar bahasa Inggris untuk bersenang – senang dan melalui permainan, namun mereka juga didorong untuk menggunakan bahasa tersebut untuk berdiskusi dan memecahkan masalah sehingga mengembangkan landasan pemikiran kritis dan kreatif. Mereka membantah persepsi publik sehingga terjadi kesalahpahaman yang terus – menerus bahwa anak – anak dapat belajar bahasa baru hanya karena mereka masih muda, dan tanpa adanya dukungan pengajaran yang berbasis penelitian.
Penelitian pemerolehan bahasa kedua (SLA) menunjukkan bahwa faktor usia yang dilebih – lebihkan ini adalah suatu kesalahan, sebaliknya kondisi dan konteks pembelajaranlah yang menjadi faktor penentu. Adapun faktor penentu tersebut yaitu: ketersediaan guru dengan tingkat kemahiran tinggi dalam bahasa target dan pelatihan profesional, banyak peluang untuk komunikasai otentik dalam bahasa, waktu pengajaran yang cukup, metodologi pengajaran yang disesuaikan dengan pembelajaran kebutuhan anak kecil, serta tindak lanjut yang konsisten dan dirancang dengan baik pengajaran di kelas yang lebih tinggi. Adapun kendala – kendala yang dihadapi saat persiapan TEYL yaitu:
Guru yang memiliki persiapan yang baik pun sering kali dirugikan karena kurangnya dukungan institusional, atau budaya sekolah yang tidak mendukung.
Dan bahasa Inggris selalu dijadwalkan pada akhir hari sekolah yang sibuk, atau berulang kali dibatalkan.
APAKAH BUKU PELAJARAN BAHASA INGGRIS UNTUK PEMBELAJARAN DASAR DI INDONESIA MENDORONG KESETARAAN GENDER?
Dalam konteks pendidikan di Indonesia merupakan alat yang paling ampuh dalam membangun keyakinan, sikap dan nilai peserta didik. Selanjutnya, produksi massal buku teks memiliki potensi untuk meningkatkan paparan terhadap ideologi tertentu, untuk membentuknya pendapat dan cara pandang peserta didik sebagai pembaca.Ini mungkin bisa mempengaruhi cara siswa memandang prespektif, terutama dalam hal gender. Stereotip gender dan kurang terwakilinya gender teretentu juga mempengaruhi perkembangan anak – anak, memberikan hambatan tertentu pada tujuan karir mereka, dan membentuk pandangan mereka tentang peran mereka.
Buku teks bahasa Inggris Maroko ditemukan memiliki kencenderungan umum dalam menggambarkan Perempuan sebagai ibu rumah tangga yang terlalu patuh, bawahan, tidak berdaya, terpinggirkan, pendiam, dan bahkan tidak termasuk dalam teks tertulis. Namun, penelitian lain yang menyelidiki representasi gender dalam buku teks EFL dalam konteks bahasa Yordania mengungkapkan bahwa, meskipun terdapat beberapa peran dan aktivitas stereotip yang berhubungan dengan laki- laki dan Perempuan dalam buku teks tersebut, dalam hal status sosial, kekuasaan, dan dominasi. Kedua gender tersebut terwakili secara setara.
Beberapa buku teks terbukti mengandung bias gender yang tinggi, lebih mengutamakan laki – laki dibandingkan perempuan, serta ketidakseimbangan gender di mana laki – laki lebih banyak diwakili dibandingkan perempuan. Namun, ada pula hal lain yang tampaknya menggambarkan kesetaraan penampilan karakter laki – laki dan Perempuan, serta prevalensi penggambaran profesional laki – laki dan perempuan serta aktivitas rumah tangga yang tercermin dalam buku teks.
Komentar
Posting Komentar